default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

OTT di Kepulauan Raiu, KPK Temukan Kode Rahasia

OTT di Kepulauan Raiu, KPK Temukan Kode Rahasia
Peristiwa Nasional
Juru Bicara KPK Febri Diansyah
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JAKARTA - Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengidentifikasi sejumlah kode rahasia, yang diduga sebagai kamuflase untuk menutupi agar orang lain tidak tahu terkait suap izin reklamasi di Kepulauan Riau.

Informasi itu disampaikan Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada sejumlah awak media. Dia mengatakan, selama proses penyelidikan jelang operasi tangkap tangan terhadap kepada daerah dan pejabat di daerah tersebut.

Adapun kode yang dipakai untuk memuluskan kegiatan tersebut adalah menggunakan nama hewan dan tumbuhan yaitu ikan, kepiting, dan daun.

Febri mengatakan tim mendengar penggunaan istilah ikan sebelum rencana penyerahan uang. Salah satunya disebut jenis ikan Tohok dan rencana ‘penukaran ikan’ dalam komunikasi tersebut.

“Selain itu terkadang digunakan kata ‘daun’. Saat KPK melakukan OTT awal di pelabuhan, pihak yang diamankan saat itu sempat berdalih tidak ada uang yang diterima, tetapi ‘kepiting’,” ujar Febri, Jumat (12/7).

Febri mengatakan, KPK berulang kali memecahkan sandi-sandi tersebut. Pemecahan kata sandi itu terbantu dengan informasi warga yang diterima KPK.

“KPK mengapresiasi informasi dari masyarakat yang valid sehingga dapat ditindaklanjuti. Pelaporan dugaan korupsi dapat dilakukan ke KPK secara langsung atau dapat menghubungi call center KPK di 198,” kata Febri.

Diberitakan sebelumnya, KPK melakukan OTT di Kepulauan Riau pada Rabu (10/7). Lembaga antirasuah ini memergoki transaksi suap antara Kepala Bidang Perikanan Tangkap Budi Hartono dan pihak swasta bernama Abu Bakar di Pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang.

Dari tangan Budi, KPK mengamankan uang 6.000 dollar Singapura. Uang itu diduga terkait izin suap reklamasi di Kepulauan Riau. Secara terpisah, KPK juga mengamankan Nurdin Basirun, Gubernur Kepulauan Riau 2016-2021 di rumah dinasnya di daerah Tanjung Pinang.

Sementara di rumah Nurdin, KPK mengamankan tas berisi uang dalam mata uang asing dan rupiah. Uang tersebut terdiri dari lima mata uang yang berbeda.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut, Sin $43.942, US$ 5.303, EUR5, RM 407, Riyal 500, dan Rp132.610.000. Uang itu, diduga sebagai gratifikasi terkait jabatannya sebagai gubernur.

Saat operasi senyap itu, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap izin prinsip dan lokasi proyek reklamasi di Kepri 2018-2019. Mereka adalah Nurdin Basirun, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Edy Sofyan, Budi Hartono, dan Abu Bakar.

Kegitan itu dimulai, ketika pihak swasta bernama Abu Bakar mengajukan izin pemanfaatan laut dengan melakukan reklamasi di Tanjung Piayu, Kepri.

Izin itu dalam rangka pembangunan resor dan kawasan wisata seluas 10,2 hektare. Perlu diketahui, Tanjung Piayu merupakan kawasan budi daya dan hutan lindung.

 


Kontributor : Windi Marika
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar