Tewasnya Pria di Jalur Pantura Situbondo Bukan Pembacokan?

Tewasnya Pria di Jalur Pantura Situbondo Bukan Pembacokan?
Peristiwa Daerah
Kapolres Situbondo saat hadir dalam olah TKP di warung dekat kejadian.

SITUBONDO - Polisi berupaya mengungkap kematian Ahmad Kusairi (34), warga Kampung Mandaran,  Desa Pesisir, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur yang ditemukan tergeletak bersimbah darah di depan sebuah warung, di tepi jalan raya Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur atau jalur pantura Situbondo.

Pria yang tewas saat di perjalanan menuju rumah sakit itu mengalami  luka menganga seperti diduga bacokan di bagian kepala hingga wajah.

Kapolres Situbondo memimpin langsung olah TKP dan melakukan penyelidikan serta meminta keterangan dari 12 orang saksi, Jumat (28/2/2020).

"Sementara dari keterangan saksi dan hasil penyelidikan menyebutkan, korban datang ke warung tersebut dalam keadaan mabuk bersama dua orang temannya. Bahkan korban sempat meminta minuman softdrink ke pemilik warung namun permintaan itu tidak dipenuhi oleh pemilik warung karena korban bermaksud utang," ucap Kapolres kepada suaraindonesia.co.id. 

Dari keterangan saksi Erna pemilik warung tersebut, dari gaya bicara korban tadi malam memang dalam kondisi mabuk. 

"Minumnya di mana, ini masih kami dalami hingga saat ini. Kita masih bekerja ekstra untuk mengungkap secara pasti penyebab kematian korban.

Hasil penyelidikan sementara, luka parah yang akhirnya membuat Ahmad Kusairi tewas, diduga bukan bekas bacokan. Tetapi akibat tersambar kendaraan yang melintas di jalan raya setempat. Munculnya dugaan korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas itu, kini juga sedang didalami oleh polisi.

"Keterangan saksi rekan korban berinisial B memang begitu. Jadi diduga korban ini meninggal akibat kecelakaan," ucap Kapolres.

Berdasarkan keterangan saksi B, korban yang sedang mabuk sempat keluar dari warung, hingga posisinya masuk ke jalan raya. Saat bersamaan ada kendaraan yang melintas. Sesaat berikutnya, korban terlihat terhuyung-huyung hingga akhirnya ambruk. Saksi B sempat mendekat dan melihat korban sudah terluka.

"Saksi B memastikan ada kendaraan yang lewat, tapi tidak bisa menyebut pasti jenis kendaraannya," bebernya.

Saksi memilih pergi melihat itu. Namun tak lama rekan korban ini kembali lagi. Polisi sempat mempertanyakan alasan saksi pergi meninggalkan korban dalam kondisi terluka di tepi jalan.

"Alasannya karena saksi ini takut. Sebab, katanya dia yang mengajak korban malam itu," timpalnya.

Dia menambahkan, saksi pemilik warung bernama Erna menerangkan, saat kejadian dia hanya mendengar teriakan 'Aduh'. Tahu begitu, saksi ini kemudian membangunkan temannya bernama Tika, dan melihat korban sudah jatuh tergeletak penuh darah.

"Saat itu, saksi lain bernama Hamidah juga mengaku melihat korban keluar warung dengan kondisi mabuk, terhuyung-huyung. Saksi ini juga tidak mendengar suara ribut atau perkelahian sebelum melihat korban sudah terjatuh," papar mantan Kapolres Pacitan itu.

Selain berdasarkan keterangan saksi, menurut Sugandi, dugaan korban tewas akibat kecelakaan juga dikuatkan dengan kondisi luka korban. Dia menyebut, luka itu lurus di bagian kepala hingga wajah seperti bekas tersambar bak truk. Dengan kondisi luka demikian, sepertinya tidak mungkin kekuatan tangan yang melakukan.

"Jika kekuatan tangan, kondisi luka korban sepertinya tidak akan sampai seperti itu. Tadi di sekitar TKP kami juga menemukan bekas rontokan gigi korban," katanya.

Polisi tidak menemukan adanya luka lain di tubuh korban. Artinya, tidak ada luka seperti bekas perlawanan korban akibat berkelahi dengan orang lain. Fakta-fakta itu menguatkan dugaan jika korban tewas akibat kecelakaan, bukan karena penganiayaan.

"Hasil penyelidikan sementara begitu. Tapi semua kemungkinan masih sedang kami dalami," pungkas Kapolres.(*)


Kontributor : Sarwo Edy
Editor : Irwan Rakhday
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar